Negriku kian mati
Katanya demokrasi tapi tak mau berselisih
Ada kalanya mengancam koalisi satu sisi menarik oposisi
Mentri bingung menjadi-jadi
Langkah tak ada yang pasti
Merekrut oposisi menyingkirkan koalisi
Tradisi baru elit politik dalam berdemokrasi
Cacimaki silih berganti
Pergantian kursi jadi sarapan pagi setiap kali ku bangun pagi
Untukmu yang asyik berdiskusi dimeja eksekusi
Tak perlu lagi kau berdebat tentang negeri ini
Basi rasanya aku mendengar berita ini karena tak ada yang pasti dari persoalan bangsa ini
Hukum tumpul pada orang yang berdasi
Runcing tajam untuk masyarakat seperti kami
Lalu dikemanakan pasal-pasal yang kau buat tadi
Jika anak cucuku kelak bertanya padaku tentang bangsa ini Kenapa ku harus bangga pada indonesia ini
Apakah kau tau menjawabnya….?
Karena sejarah…..!
Iya,karena kita punya sejarah, patut diteladani
Parahnya kenapa kita tidak meniru hal itu
Bangsa ini semakin dekat dijurang perselisihan
Belum tuntas yang satu datang persoalan baru
Akhirnya mengambanglah penderitaan ini
Janganlah lagi kita menghabiskan waktu berdebat tentang hal ini karena kau akan membuatku mati
Perlahan hatiku kau lukai lalu dengan
Kebuasanmu kau cabit-cabit nurani ini
Bila saja esok negri ini kan lebih baik dari sekarang maka kupinta tiadakan saja partai-partai hari ini
Omongannya tak ada yang pasti semuanya basa-basi
demokrasi adalah basa-basi politisi
tak ada lagi oposisi
koalisi hanya argumentasi tanpa prinsip
tumpah tindih partai berebut kursi
bursa untuk para mentri marak diperbincangkan
demokrasi tanpa oposisi
politisi basa-basi berdemokrasi
Makassar, 11 Maret 2011
Puisi Orang Amatir
Blog ini adalah wahana publik yang mencoba untuk saling berbagi dengan orang-orang yang suka dengan sastra terutama puisi. Apa yang disajikan penulis dalam puisinya merupakan buah karya yang lahir dari pengamatan sosial yang dilihatnya, serta apa yang dialami penulis. Olehnya itu saran dan kritik sangat kami harapkan untuk kesempurnaan karya-karya tulisannya. Terima kasih atas segala partisipasinya.
Senin, 04 April 2011
Senin, 06 Desember 2010
SEJARAH YANG TENGGELAM
Pagi berdansa dingin
tapak kaki jejaki lantai tak berujung
senada nyanyian pagi membahana
terawang mataku jauh lihat jejak rumah tua lagi tampak
batu berserakan.....
tembok tumbang....
artefak bekas rumah tua sirna sekedip mata
lapang tanah kosong hijau terhampar luas tersulap gedung mewah ladang panen peruntungan
bola tak lagi bergulir seperti kemarin
keramaian menjadi sepi
rerumputan tak lagi bergoyang
dengan ayunan samba dan sepak pojok
tata kotaku kuburkan sejarah silam
Makassar, 2008
ANGIN
angin tanpa warna
tanpa wujud namun terasa
kuingin kau menjadi sahabatku
berteman dengan kekuatanmu
robohkanlah istana kemaksiatan atas nama rakyat
bertiuplah dengan keras tumbangkan kekuasaan hitam
telah lama mereka berdansa menari dengan materi
sementara di depan mata isak tangis melantung pilu
Gowa, 2008
EPISODE KEMARIN
kagumku karena perlawananmu
banyak cerita perjuangan dan idealisme kau transfer di memoriku
apa lagi teori dari buku yang kau baca
kenalkanku pada megapon dan ban-ban bekas
api berkobar saat kutidur lelap dengan masa kecilku
asap sisa kemarin merambah jiwa muda teman sepermainanku
kau dekat dengan kekuasaan
ajak aku menjual idealisme
kemana teori yang kau ajarkan dari buku bacaanmu
mata rantai putus
kau pun cap aku pemberontak jalanan
aku hanya melanjutkan episode cerita kemarin
dan belajar kemanusiaan di jalan dengan gerobak demonstran
Makassar, 2009
SANG PENJAGAL
bangsal padat tamu
pelayat lalu lalang keluar masuk kamar
hawa panas
beberapa bangku tadinya kosong
lalu penuh kerumunan orang
ada yang merokok
ada yang berduka, tertawa dan bertasbih
ada juga yag banyak tingkah
aneh malam ini
dalam kamar inap terdengar suara kakek paruh baya
kenapa aku di sini
kamu berada di perbatasan kampung mahsyar
bisikku dalam hati di pinggir pintu masuk ruang eksekusi?
dipojok ruang berbeda ada yang sakaratul
matanya melotot
takut
disekelilingnya bersiap-siap sang penjagal dari kerajaan akhirat tanpa belas kasih
bulu merinding meski wujudnya tak nampak
aku takut ia datang menghampiriku
08 September 2009
SI BURUNG MERAK
dia liar dengan kepakan sayapnya
berlabuh pada tiap dermaga
bertengger pada pucuk daun
si merak dengan jerit lehernya berseru dari arena ke panggung sandiwara
rarang kejantanannya perkasa
raungan menyibak tabir pada negeri abu-abu ini
sajak ditorehkan dipengembaraannya
terbalas jeruji warisan ideologi
seragam baru lalu dikenakan
rantai kerangkeng kakinya
merak terkurung sangkar
buatan ahli-ahli besi
lorong aspirasi pudar sejenak
kepakan sayap tak lagi luluh lantang memamerkan bulu sayapnya pada dua merak betina
seperti musim kemarin merak itu kinipun terluntah-luntah
jantung mulai lemah
lalu bermainlah dia menantang maut
gubuk baru menantinnya
Tuhan temani hari-harinya
Bontonompo, 10 Agustus 2009
BOOOOM
pesta duka lima tahun silam kembali lukis kisah baru
dia kembali dengan teror
pencarian digalakkan
salah tangkap marak memakan korban
selebritas penuh sensasi
predikat nomor wahid melekat padanya
label hitam cap untuk pertiwi
negeri berhening cipta
polisi mondar-mandir
noordin ketawa sensasi tingkahnya
kado dari demokrasi hari ini
Bontonompo, 19 Juli 2009
Mengenang JW Marriot dan Rits Carlton
NEGERI LUMPUR
hangat teh panas pagi ini sejukkan kerongkongan
dahaga reda lega terasa
kopi tubruk tak klah enaknya kuminum di pojok warung
hasil racikanku
itu tak seberapa
dibanding bubur lapindo yang tersaji saat itu
teh dan kopi kehilangan rasa
negeri lumpur usir penduduknya
ganti rugi tak didapatinya
Makassar, 2008
PELUKIS MALAM
kemarin kumelukis malam disiang hari
orang mengatakan aku bodoh
kutunggu hujan di musim kemarau
mereka menganggapku gila
kucari jarum di padang rumput
mereka tertawa
kutantang penguasa
mereka jadi lawan
entah apa dikepala mereka
kutanya rumput yang bergoyang kapan mereka akan menertawakan dirinya?
tunggu hingga ia tak mampu lagi menjadi pengikut raja
BILIK JANTUNGMU
memoar malam ini
ingatkanku dua tahun silam
kau masih dengan kasederhanaanmu saat kulafaskan kalimat cinta itu
gelisahku di padang pertemuan itu
antarku singgah disalah satu bilik jantungmu
aku lalu menyisipkan sedikit celah hatiku di ruang jiwamu yang kosong
kau suguhi aku segelas air
kusambut lambaian tangan yang meragu
sedikit malu-malu
jika boleh aku meminta satu hal tentang sebuah arti
kuingin kau jatuhkan aku dibilik jantungmu bagian kanan
lalu kusisipkan rinduku dibilik sukmamu
agar kau selalu menyapaku disetiap waktu
Makassar, 2009
SELIR HIDUPKU
aku jatuh di dua bilik hati
kulebur dalam satu jiwa
kubungkus tangis dengan duka
Maria dengan polesan kesederhanaanya nampak malu-malu
melafaskan nyanyian yang tak pupus sepanjang malam
tubuhnya mungil, kulukis di setiap pertengahan malam
akhiri mimpi yang menggantung dalam angan
Mano adalah setetes air yang jatuh dipelipis wajahku
kutemukan ditelaga sunyi
telaga yang kulihat di ketinggian bukit, berwarna abu-abu itulah kunamai dirimu
inginku jatuh diretina matamu
namun langkahku terbentur dipersimpangan waktu
bila esok kumampu mengeja namamu dipendakianku
maka jangan ragu temui aku ditelaga tempat kumenemukanmu
BISIK TETANGGA
hari ini kudengar kau mencerca diriku dikerumunang rumah tetangga
kau berdiskusi tentang pilihanku dihari pencoblosan kemarin
kutanya hati tiada yang salah
aku adalah virus
itu anggapanmu
aku adalah pemberontak
itu katamu?
jangan kau mengurungku disangkar besi
karena aku tak ingin ditindas
jangan kau memaksa aku ikut denganmu karena jalanku tak sama denganmu
usahlah ungkit ketidakpatuhanku dihari lalu
tak mesti aku berjalan dibelakangmu
mataku tak buta
Bontorikong, 25 Juni 2010
Dua hari setelah pemilukada
MALAM KITA
kabut hari ini menggumpal tanpa iba melukis hitam dibirunya langit
jerit mengaung biaskan tangis akhiri cerita untuk hari esok
episode ini telah berakhir
ini bukan salah kita
ini jalan kita
ini cerita kita
pertemuan malam ini kuingin berbisik mesra ditelingamu
menatap wajahmu
seraya berkata.........
tataplah langit malam ini karena dibaliknya ada serpihan cinta yang tak mungkin kamu gapai lagi
dia telah pergi bersama dewi malam yang datang menjemputnya
untuk itu izinkanlah ia berlabuh di dermaga baru yang menyambutnya
karena disana ada seenggok damai dan bahagia menantinya
Sinjai, 13 Maret 2007
LUKISAN DARAH
kubelai rambutmu dengan senyum
kau jabat tanganku dengan senyum
kau lukai aku dengan senyum
kulepas dirimu dengan senyum
di telapak jalan ini tak kutemui lagi mimpi
dipelupuk setia tiada cinta
tiada kejujuran
janji yang terikrar
tak lebih dari sepenggal cerita masa lalu tanpa darah
senyumku adalah ketulusan
lahir dari sebuah harapan
tak dapat kutebak dirimu
lukisanku berbau darah
Bontorikong, 22 Juni 2010
LELAH
jangan pernah lelah mencintaiku
menyusuplah disela nafasku
lukisan noktah perkawinan merona dibibir manismu
ikrar suci jangan kau nodai
penantian ini melelahkan perjalanan kita
kunikmati walau kuterluntah dipendakian ini
aku mati ditelang malam
kau terdampar disesaknya jalan
empat penjuru langit kuprototi
angin semilir berganti
perlahan melangkah pasti kudapati tiada janji
jalan kita terluntah-luntah memikul noda berselimut dusta
Bontorikong,6 Juli 2010
AKU TEGA
Pada setiap daunyang berguguran kubisikkan mantra
Pada bibirmu yang ranum kupoles asa
Kutitipkan rinduku dibilik jantungmu
Lalu kukatakan seribu sayang
Dihatiku ada namamu
Aku tega…………………..
Aku tega…………………..
Aku tega…………………..
Lidahku buatmu luka
Hidupmu bukan tujuanku lagi
Aku bersandar pada masa laluku yang telah kubunuh kemarin
Jalanmu pun kulihat terluntah-luntah
Dan kamu enggan menyapaku lagi
Sapalah aku dengan nama yang beda
Diareku menyimpan dua nama
Satu adalah misteri
Dua adalah abu-abu
Bontorikong,12 Juli 2010
DIA YANG MENCARI KEADILAN
Kakiku melepuh dijalan berasapal
Menyelusuri hutan belantara
Mendaki gunung terjal melintasi pulau tak berpenghuni
Demi setitik nila aku memburu keadilan 17 tahun silam
Anakku idris adalah tumbal dari tak kepedulianmu tentang keadilan
Ia pergi dimasa muda berkelana dipadang tandus
Tanpa menoleh padaku lalu kaku membisu dan membiru
Sepatu hitam dan kaos oblong adalah kenangan terakhir darinya yang telah dicicilnya untukku
Belum lunas lalu pergi dengan
SURAT JODOH UNTUKMU
Aku mengajakmu bertarung diatas pelaminan
Karena kesetiaan kuyakin kan pudar dengan sendirinya
Ketakutanku adalah rasa itu telah berubah
Dari itu aku datang membuka pintu suratmu yang kau katakan tertutup awan hitam
Akhir temui muaranya
Janganlah ragu karena aku membukakan surat jodohmu
Jangan lagi kau katakan pintu suratmu tertutup awan kelabu
Karena awan itu kini tak lagi menjadi penghalang
Aku telah meniupnya dengan kesungguhan
Agar aku mampu membuktian bahwa janji tentang cinta yang telah kutaruh diatas sumpahku tak termakan oleh kebohongan belaka
14 September 2010
Pagi berdansa dingin
tapak kaki jejaki lantai tak berujung
senada nyanyian pagi membahana
terawang mataku jauh lihat jejak rumah tua lagi tampak
batu berserakan.....
tembok tumbang....
artefak bekas rumah tua sirna sekedip mata
lapang tanah kosong hijau terhampar luas tersulap gedung mewah ladang panen peruntungan
bola tak lagi bergulir seperti kemarin
keramaian menjadi sepi
rerumputan tak lagi bergoyang
dengan ayunan samba dan sepak pojok
tata kotaku kuburkan sejarah silam
Makassar, 2008
ANGIN
angin tanpa warna
tanpa wujud namun terasa
kuingin kau menjadi sahabatku
berteman dengan kekuatanmu
robohkanlah istana kemaksiatan atas nama rakyat
bertiuplah dengan keras tumbangkan kekuasaan hitam
telah lama mereka berdansa menari dengan materi
sementara di depan mata isak tangis melantung pilu
Gowa, 2008
EPISODE KEMARIN
kagumku karena perlawananmu
banyak cerita perjuangan dan idealisme kau transfer di memoriku
apa lagi teori dari buku yang kau baca
kenalkanku pada megapon dan ban-ban bekas
api berkobar saat kutidur lelap dengan masa kecilku
asap sisa kemarin merambah jiwa muda teman sepermainanku
kau dekat dengan kekuasaan
ajak aku menjual idealisme
kemana teori yang kau ajarkan dari buku bacaanmu
mata rantai putus
kau pun cap aku pemberontak jalanan
aku hanya melanjutkan episode cerita kemarin
dan belajar kemanusiaan di jalan dengan gerobak demonstran
Makassar, 2009
SANG PENJAGAL
bangsal padat tamu
pelayat lalu lalang keluar masuk kamar
hawa panas
beberapa bangku tadinya kosong
lalu penuh kerumunan orang
ada yang merokok
ada yang berduka, tertawa dan bertasbih
ada juga yag banyak tingkah
aneh malam ini
dalam kamar inap terdengar suara kakek paruh baya
kenapa aku di sini
kamu berada di perbatasan kampung mahsyar
bisikku dalam hati di pinggir pintu masuk ruang eksekusi?
dipojok ruang berbeda ada yang sakaratul
matanya melotot
takut
disekelilingnya bersiap-siap sang penjagal dari kerajaan akhirat tanpa belas kasih
bulu merinding meski wujudnya tak nampak
aku takut ia datang menghampiriku
08 September 2009
SI BURUNG MERAK
dia liar dengan kepakan sayapnya
berlabuh pada tiap dermaga
bertengger pada pucuk daun
si merak dengan jerit lehernya berseru dari arena ke panggung sandiwara
rarang kejantanannya perkasa
raungan menyibak tabir pada negeri abu-abu ini
sajak ditorehkan dipengembaraannya
terbalas jeruji warisan ideologi
seragam baru lalu dikenakan
rantai kerangkeng kakinya
merak terkurung sangkar
buatan ahli-ahli besi
lorong aspirasi pudar sejenak
kepakan sayap tak lagi luluh lantang memamerkan bulu sayapnya pada dua merak betina
seperti musim kemarin merak itu kinipun terluntah-luntah
jantung mulai lemah
lalu bermainlah dia menantang maut
gubuk baru menantinnya
Tuhan temani hari-harinya
Bontonompo, 10 Agustus 2009
BOOOOM
pesta duka lima tahun silam kembali lukis kisah baru
dia kembali dengan teror
pencarian digalakkan
salah tangkap marak memakan korban
selebritas penuh sensasi
predikat nomor wahid melekat padanya
label hitam cap untuk pertiwi
negeri berhening cipta
polisi mondar-mandir
noordin ketawa sensasi tingkahnya
kado dari demokrasi hari ini
Bontonompo, 19 Juli 2009
Mengenang JW Marriot dan Rits Carlton
NEGERI LUMPUR
hangat teh panas pagi ini sejukkan kerongkongan
dahaga reda lega terasa
kopi tubruk tak klah enaknya kuminum di pojok warung
hasil racikanku
itu tak seberapa
dibanding bubur lapindo yang tersaji saat itu
teh dan kopi kehilangan rasa
negeri lumpur usir penduduknya
ganti rugi tak didapatinya
Makassar, 2008
PELUKIS MALAM
kemarin kumelukis malam disiang hari
orang mengatakan aku bodoh
kutunggu hujan di musim kemarau
mereka menganggapku gila
kucari jarum di padang rumput
mereka tertawa
kutantang penguasa
mereka jadi lawan
entah apa dikepala mereka
kutanya rumput yang bergoyang kapan mereka akan menertawakan dirinya?
tunggu hingga ia tak mampu lagi menjadi pengikut raja
BILIK JANTUNGMU
memoar malam ini
ingatkanku dua tahun silam
kau masih dengan kasederhanaanmu saat kulafaskan kalimat cinta itu
gelisahku di padang pertemuan itu
antarku singgah disalah satu bilik jantungmu
aku lalu menyisipkan sedikit celah hatiku di ruang jiwamu yang kosong
kau suguhi aku segelas air
kusambut lambaian tangan yang meragu
sedikit malu-malu
jika boleh aku meminta satu hal tentang sebuah arti
kuingin kau jatuhkan aku dibilik jantungmu bagian kanan
lalu kusisipkan rinduku dibilik sukmamu
agar kau selalu menyapaku disetiap waktu
Makassar, 2009
SELIR HIDUPKU
aku jatuh di dua bilik hati
kulebur dalam satu jiwa
kubungkus tangis dengan duka
Maria dengan polesan kesederhanaanya nampak malu-malu
melafaskan nyanyian yang tak pupus sepanjang malam
tubuhnya mungil, kulukis di setiap pertengahan malam
akhiri mimpi yang menggantung dalam angan
Mano adalah setetes air yang jatuh dipelipis wajahku
kutemukan ditelaga sunyi
telaga yang kulihat di ketinggian bukit, berwarna abu-abu itulah kunamai dirimu
inginku jatuh diretina matamu
namun langkahku terbentur dipersimpangan waktu
bila esok kumampu mengeja namamu dipendakianku
maka jangan ragu temui aku ditelaga tempat kumenemukanmu
BISIK TETANGGA
hari ini kudengar kau mencerca diriku dikerumunang rumah tetangga
kau berdiskusi tentang pilihanku dihari pencoblosan kemarin
kutanya hati tiada yang salah
aku adalah virus
itu anggapanmu
aku adalah pemberontak
itu katamu?
jangan kau mengurungku disangkar besi
karena aku tak ingin ditindas
jangan kau memaksa aku ikut denganmu karena jalanku tak sama denganmu
usahlah ungkit ketidakpatuhanku dihari lalu
tak mesti aku berjalan dibelakangmu
mataku tak buta
Bontorikong, 25 Juni 2010
Dua hari setelah pemilukada
MALAM KITA
kabut hari ini menggumpal tanpa iba melukis hitam dibirunya langit
jerit mengaung biaskan tangis akhiri cerita untuk hari esok
episode ini telah berakhir
ini bukan salah kita
ini jalan kita
ini cerita kita
pertemuan malam ini kuingin berbisik mesra ditelingamu
menatap wajahmu
seraya berkata.........
tataplah langit malam ini karena dibaliknya ada serpihan cinta yang tak mungkin kamu gapai lagi
dia telah pergi bersama dewi malam yang datang menjemputnya
untuk itu izinkanlah ia berlabuh di dermaga baru yang menyambutnya
karena disana ada seenggok damai dan bahagia menantinya
Sinjai, 13 Maret 2007
LUKISAN DARAH
kubelai rambutmu dengan senyum
kau jabat tanganku dengan senyum
kau lukai aku dengan senyum
kulepas dirimu dengan senyum
di telapak jalan ini tak kutemui lagi mimpi
dipelupuk setia tiada cinta
tiada kejujuran
janji yang terikrar
tak lebih dari sepenggal cerita masa lalu tanpa darah
senyumku adalah ketulusan
lahir dari sebuah harapan
tak dapat kutebak dirimu
lukisanku berbau darah
Bontorikong, 22 Juni 2010
LELAH
jangan pernah lelah mencintaiku
menyusuplah disela nafasku
lukisan noktah perkawinan merona dibibir manismu
ikrar suci jangan kau nodai
penantian ini melelahkan perjalanan kita
kunikmati walau kuterluntah dipendakian ini
aku mati ditelang malam
kau terdampar disesaknya jalan
empat penjuru langit kuprototi
angin semilir berganti
perlahan melangkah pasti kudapati tiada janji
jalan kita terluntah-luntah memikul noda berselimut dusta
Bontorikong,6 Juli 2010
AKU TEGA
Pada setiap daunyang berguguran kubisikkan mantra
Pada bibirmu yang ranum kupoles asa
Kutitipkan rinduku dibilik jantungmu
Lalu kukatakan seribu sayang
Dihatiku ada namamu
Aku tega…………………..
Aku tega…………………..
Aku tega…………………..
Lidahku buatmu luka
Hidupmu bukan tujuanku lagi
Aku bersandar pada masa laluku yang telah kubunuh kemarin
Jalanmu pun kulihat terluntah-luntah
Dan kamu enggan menyapaku lagi
Sapalah aku dengan nama yang beda
Diareku menyimpan dua nama
Satu adalah misteri
Dua adalah abu-abu
Bontorikong,12 Juli 2010
DIA YANG MENCARI KEADILAN
Kakiku melepuh dijalan berasapal
Menyelusuri hutan belantara
Mendaki gunung terjal melintasi pulau tak berpenghuni
Demi setitik nila aku memburu keadilan 17 tahun silam
Anakku idris adalah tumbal dari tak kepedulianmu tentang keadilan
Ia pergi dimasa muda berkelana dipadang tandus
Tanpa menoleh padaku lalu kaku membisu dan membiru
Sepatu hitam dan kaos oblong adalah kenangan terakhir darinya yang telah dicicilnya untukku
Belum lunas lalu pergi dengan
SURAT JODOH UNTUKMU
Aku mengajakmu bertarung diatas pelaminan
Karena kesetiaan kuyakin kan pudar dengan sendirinya
Ketakutanku adalah rasa itu telah berubah
Dari itu aku datang membuka pintu suratmu yang kau katakan tertutup awan hitam
Akhir temui muaranya
Janganlah ragu karena aku membukakan surat jodohmu
Jangan lagi kau katakan pintu suratmu tertutup awan kelabu
Karena awan itu kini tak lagi menjadi penghalang
Aku telah meniupnya dengan kesungguhan
Agar aku mampu membuktian bahwa janji tentang cinta yang telah kutaruh diatas sumpahku tak termakan oleh kebohongan belaka
14 September 2010
Rabu, 03 November 2010
BERBURU TIKUS
menjelang proklamasi
kucing dan tikus kejar-kejaran
penjagaan semakin kencang
kucing takut kecolongan apalagi ancaman itu makin kencang
tak capek mereka berpetak umpet
tikus liar dan nakal
berkata kucing dalam laporan eksklusifnya?
satukan barisan seret tikusnya
ungkap dalang cabut akarnya
mustahil
kataku........
sementara kucing disini pada sibuk malak orang
tangkap sana tangkap sini
Bontonompo, 12 Agustus 2009
Saat kulihat polisi rame-rame tilang orang sementara Noordin masih buronan
menjelang proklamasi
kucing dan tikus kejar-kejaran
penjagaan semakin kencang
kucing takut kecolongan apalagi ancaman itu makin kencang
tak capek mereka berpetak umpet
tikus liar dan nakal
berkata kucing dalam laporan eksklusifnya?
satukan barisan seret tikusnya
ungkap dalang cabut akarnya
mustahil
kataku........
sementara kucing disini pada sibuk malak orang
tangkap sana tangkap sini
Bontonompo, 12 Agustus 2009
Saat kulihat polisi rame-rame tilang orang sementara Noordin masih buronan
Kamis, 28 Oktober 2010
SAJAK PERLAWANAN
antara bisu, hidup dan penjara
tak jua temui pusarah nyata
bisu jawaban ketidakmampuan keterpenjaraan mereka
reinkarnasi perjalanan panjang tak punya mata arah
mati dalam ketertindasan pasrah dalam ketidakmampuan
sajak perlawanan tak lagi menjadi senjata ampuh
malah jadi jeruji mengikat kedua kakinya
kata tak mampu lagi menjadi untaian bermakna
harapan pudar bersama robohnya dinasti kebenaran
penantian kedamaian menjadi terminal
persinggahan lalat dapur
menunggu datangnya sarapan pagi
sementara perutku kosong lapar tidak makan seharian
begitulah kata yang terlontar setiap hari dari mulut mereka
menunggu…dan menunggu adalah kata persinggahan
yang acap kali terlontar dimulutnya
sajak perlawanan tak lagi temui muaranya
perjuangan hanyalah cerita tanpa buah nyata
kutunggu sajak perlawananmu
bersama lentungan senjata
pertanda bangkitnya semangat juang
Makassar, 03 November 2008
antara bisu, hidup dan penjara
tak jua temui pusarah nyata
bisu jawaban ketidakmampuan keterpenjaraan mereka
reinkarnasi perjalanan panjang tak punya mata arah
mati dalam ketertindasan pasrah dalam ketidakmampuan
sajak perlawanan tak lagi menjadi senjata ampuh
malah jadi jeruji mengikat kedua kakinya
kata tak mampu lagi menjadi untaian bermakna
harapan pudar bersama robohnya dinasti kebenaran
penantian kedamaian menjadi terminal
persinggahan lalat dapur
menunggu datangnya sarapan pagi
sementara perutku kosong lapar tidak makan seharian
begitulah kata yang terlontar setiap hari dari mulut mereka
menunggu…dan menunggu adalah kata persinggahan
yang acap kali terlontar dimulutnya
sajak perlawanan tak lagi temui muaranya
perjuangan hanyalah cerita tanpa buah nyata
kutunggu sajak perlawananmu
bersama lentungan senjata
pertanda bangkitnya semangat juang
Makassar, 03 November 2008
Langganan:
Komentar (Atom)